ceRpeN

HARAPAN DIPAGI YANG CERAH

    Aku Nike, aku adalah seorang siswi di salah satu sekolah menengah kejuruan di Surabaya. Aku berasal dari keluarga yang amat sederhana. Tapi aku sangat bersyukur karena aku masih bisa sekolah dijenjang SMK sampai sekarang ini. Setiap pagi aku selalu berangkat sekolah dengan jasa angkutan umum. Membeli koran yang selalu dijajakan disalah satu lampu lalu lintas adalah kebiasaanku ketika berangkat kesekolah.

   Disanalah aku bertemu dengan seseorang yang sekarang ini menjadi teman kecilku. Namanya Rizal. Dia baru berumur 10 tahun. Lain halnya denganku yang setiap pagi berangkat kesekolah. Setiap pagi ia malah menjajakan koran kepada setiap pengguna jalan. Dengan teriakan khasnya untuk menjajakan koran. Disanalah ia mendapatkan uang untuk sesuap nasi.

   Aku berkenalan dengannya ketika ia menumpng salah satu angkutan umum yang kebetulan sama denganku. Melihat kondisinya saja sudah membuat aku iba. Baju yang kotor, badan yang kurus, dan rambut yang acak-acakan membuat hati nuraniku terdorong untuk menanyakan siapa namanya dan mengapa dia seperti itu. Dan ternyata seperti kabanyakan anak jalanan lainnya. Ia berkata bahwa ia tidak memiliki orang tua. Air mataku rasanya akan jatuh. Langsung saja aku mengakhiri percakapan dengan membeli korannya. Aku ambil uang dua puluh ribuan dan aq menyuruhnya untuk mengambil uang kembalian. Saat sampai di lampu lalu lintas tempat ia menjajakan koran. Rizal turun dengan seulas senyum penuh arti padaku.

   Pagi terus berlalu dengan indahnya. Sejak kejadian pagi itu aku sering bertemu dengan Rizal di tempat biasa dan membeli koran yang dijajakannya. Hari demi hari kami semakin akrab saja. Dia mulai mau berbagi cerita tentang kehidupan yang ia jalani. Orang tua yang meninggalkannya dan kelurga yang sudah tidak mau mengurus Rizal sejak kecil. Ingin sekali aku membantunya, tapi sayangnya aku juga berasal dari keluarga yang pas-pasan. Dapat melanjutkan sekolah sampai saat ini adalah suatu keberuntungan besar bagiku.

   Suatu pagi ketika aku sengaja ingin mengobrol dengannya. Ia menceritakan tentang harapan-harapan yang selama ini terbendung di hatinya. “Kalau saja aku bisa sekolah seperti kakak. Aku tidak akan jadi orang yang bodoh seperti ini. Bisa bekerja lebih baik, berguna untuk bangsa dan keluargaku pasti mau merawatku kalau aku punya uang yang banyak.” Kata-kata itu hampir saja membuat aku menangis. Aku benar-benar terharu. Belum pernah aku bertemu anak kecil yang setegar dia.  Bisa-bisanya ia memikirkan tentang bangsa ini, padahal bangsa ini saja kurang memperhatikan nasib anak-anak seperti Rizal. Tanpa aku sadari bertemu rizal adalah pelajaran yang sangat berarti bagiku. Bagaimana menjalani hidup dengan tegar seperti Rizal menjalani hidup ini.

   Sekarang Rizal telah tiada. Teman kecilku telah meninggalkanku selamanya. Bus kota yang merenggut nyawanya dua bulan lalu sungguh membuatku sangat terpukul. Kini, tiada sosok Rizal yang semangat menjajakan korannya setiap aku berangkat ke sekolah. Kini, aku kehilangan suara khas Rizal yang selalu menggema di telingaku setiap pagi. Dan kini aku kehilangan seseorang yang menjadi guruku dalam menjalani kehidupan. Selamat jalan teman kecilku. Aku akan selalu mengenangmu. mengenang harapan-harapan di pagi yang cerah….

Post a Comment